Produktivitas yang Dipertanyakan


Sudah pernah mendengar istilah produktivitas palsu? atau istilah asiknya fake productivity. Yang penasaran dan ingin evaluasi pola produktivitas, baca sampai akhir ya.

Assalamualaikum, teman-teman. Pekan empat aku akan mencoba mengulas terkait istilah produktif yang akhir-akhir ini sering disuarakan ke telingaku. Aku pernah ada di fase memuja produktivitas. Dari zaman kuliah, obsesiku untuk terus 'bergerak' cukup tinggi, pokoknya harus ada kegiatan. Satu-satunya alasan dari obsesi tersebut adalah menghindari pemikiran-pemikiran jahat ketika nggak ngapa-ngapain. Sebab setiap aku nganggur, aku selalu meresahkan sisi ketidakbergunaanku hingga muncul sikap rendah diri. Dan itu menyiksa pikiran juga mental. Pertanyaannya, apakah banyak kegiatan hingga tidak punya waktu luang adalah wujud produktivitas? Tentu tidak selalu.

Aku suka rebahan, memang nikmat gila. Namun apakah goler-goler dengan gulir-gulir media sosial dikatakan produktif? Dan menata ulang kamar di hari kerja juga wujud produktif? Let me show a productivity definition.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, produktif adalah adjektiva yang mampu menghasilkan serta mendatangkan manfaat, hasil yang menguntungkan. Sedang menurut Peter F. Drucker, seorang ekolog sosial yang memiliki definisi produktivitas paling jenius menurutku, mengatakan bahwa produktivitas adalah keseimbangan antara seluruh faktor-faktor yang akan memberi keluaran yang banyak dengan pengeluaran yang hemat. Dari sini kuncinya adalah sangkil atau efisien.

Do you have your own definitions for concepts or do you use whatever is in dictionary and people's opinions? Aku suka memiliki definisi sendiri berdasarkan dengan tujuan dan pengalamanku. Ini membantuku untuk tidak latah dengan standar manusia lain.

Sebelum membahas kata kunci efisien, mari munculkan terlebih dahulu kata kunci relevansi. Banyak masalah timbul karena lupa atau bahkan belum menentukan tujuan. Terobsesi sibuk padahal yang dikerjakan tidak sesuai target. Misalnya membalas semua pesan tanpa memperhatikan kepentingan, mengikuti semua diskusi, merapikan data berulang kali, menonton YouTube hingga lupa waktu, apa lagi? Apabila kegiatan-kegiatan yang baru saja kusebutkan relevan dengan tujuan kalian, itu produktif bagi kalian. Katakanlah kalian mengikuti semua diskusi dengan tujuan menambah relasi dan berharap menemukan antusias terhadap hal baru. Lagi-lagi semua mindset ya.

Sekarang, seharusnya kita lebih sadar seberapa penting suatu tujuan itu. Nah, setelah relevan, baru masuk ke kata kunci selanjutnya. Efisien; sinonim sangkil. Bagaimana mewujudkan produktivitas yang sangkil. Jika arti sebenarnya dari sangkil adalah berdaya guna dan sesuai, kurasa terlihat kaku, coba dihubungkan dengan eksperimen dari Charles Eisenstein yang mengubah pertanyaan, how can we do things in the most efficient way? ke how can we do things in the most beautiful way? Kalau aku coba interpretasikan, how do I make sure my work is something I am proud of? Something that has quality? Jadi, tidak sekadar banyak dan tuntas, tetapi memiliki nilai. Gak buat kita stres, menyesal, dan juga tidak membuat kita biasa saja. Aku tahu, bukan hal mudah untuk menemukan kegiatan yang tepat sesuai definisi produktivitas yang relevan dan efisien. Jalan keluarnya, coba dulu. Sangkil hadir ketika apa yang dikerjakan tepat sasaran tanpa melukai sekelilingnya. Gitu kira-kira.

Bahaya dari fake productivity ini tidak hanya memengaruhi aktivitas saja, namun juga berdampak pada personalitas. Apalagi jika terus menerus bersembunyi di balik produktivitas palsu. Berikut beberapa pintu keluarnya:

Be mindful with your time. Tidak semua harus kamu hadiri. Pilih kegiatan yang sesuai kebutuhanmu dan membutuhkanmu. Dampak besar akan lebih terlihat dari situ. Seperti kata Imam Syafi'i Rahimullah, "waktu ibarat pedang."

Track progress spesifically. Tiga jam menghadap laptop bukan produktif jika tujuanmu tidak tercapai. Pasang tujuan dan catat perkembanganmu secara objektif dan khusus. Misalnya, dalam 2 jam menulis 500 kata.

Habit selection. Sudah umum sekali ungkapan, "hal kecil berpotensi berdampak besar." Karenanya, coba lakukan diskoneksi pada hal-hal buruk yang mengganggu produktivitas.

Menjadi tidak produktif itu bahaya, namun mengira apa yang kita lakukan itu produktif padahal tidak, akan sia-sia.

Hope this article of productivity resonates with you. And by all means, if it doesn’t, create your own! See you!




Sajak Kemelekan

LITERASI USIA 

Pada kelopak waktu yang disepakati Tuhan

Aku ingin bercerita

/

Usiaku menuju bukit balik kata yang tengah menumpuk di hampar keseharian

Ia ingin berjarak dari hiruk pikuk kesibukan yang begitu pekat

Rapat oleh mimpi pada bilik-bilik kekhawatiran

Jalanan kota ramah dengan gemuruh asap keangkuhan

Para pejalan berlarian mengunduh ego yang makin akrab bagi tubuh

Sementara, lamat-lamat hadir suara lalu mendekat

Semakin nyaring

Mengiang ledakan

Mengetuk balik jendela kesendirian

Berulang mengirim prasangka yang tak jemu berkata:

Bacalah, pikirlah, tulis!

 

Demikian tajam

Mencari sela-sela pori

Mengikuti aliran darah

Tiba menyapa jantung

Mengelus manja otak

Mengusap hati yang resah

Hingga meraba nyawa

Tak henti menghampiri ceruk-ceruk tubuhku yang senyap

Ada getar diri yang menularkan desir cinta pertama dan berharap selamanya

Terlintas jejakan hening yang teguh terjaga dan bimbang terlelap

Merawat kedalaman semesta

Menumbuh keabadian percaya

 

Bulir air mataku melukis kesiaan usia

Tak segera usai bercanda pada gelimang kefanaan

Semacam diulang

Sebuah permainan yang mencatat kerugian dalam batin perjalanan

Luruhan gerimis menerjang ruas tahun dan batas iklim

Semacam menjadi saksi

Kian dekat dilimbur ribuan getun bermukim

 

Nyaring suara yang terlalu itu kembali hadir

Dengan sinopsis jentera waktu

Sekuel amanah rindu

Sangat mungkin memercikkan awal haru

Suaranya semakin menyahut menggelegar

Mendesakku agar aku tersadar

Sebelum maut merebut, maka:

Bacalah, pikirlah, tulis!


*Pernah dimuat dalam antologi nasional.

Antologi Karya Jurnalistik dan Sedikit Ceritanya

                 Halo pengunjung blogku. Unggahan artikel kali ini akan berisi tentang karya-karya tulisku yang pernah dimuat di media online dan cetak; khusus untuk artikel jurnalistik. Sebelumnya aku mau cerita sedikit nih tentang kegemaranku di dunia jurnalistik. Sejak SMP aku sudah tertarik dengan kepenyiaran teman-teman. Namun terhalang, sebab aku pernah menjadi Rosi yang pemalu sebelum akhirnya menjadi Rosi yang sekarang. Masih pemalu juga sih, tapi lumayan berkurang lah. Berkat media sosial yang sebenarnya bisa jadi tempat berlatih menghadapi orang secara virtual.

                Saat SMA aku tergabung menjadi tim jurnalis utama di sekolahku, sekaligus menjadi delegasi sekolah ke komunitas jurnalis di kotaku. Namanya Kojurda (Komunitas Jurnalis Muda) Kediri Raya. Di sana aku diajari banyak hal tentang media dan produksinya. Aku dan timku pernah kunjungan studi di salah satu media ternama di Indonesia, Jawa Pos. Kami belajar bagaimana berita tersebut didapatkan wartawan, ditulis, disunting editor, hingga kami praktek menjual koran di pukul 6 pagi. Seru sekali. Oh iya, aku dulu dapat penghargaan sebagai delegasi dengan konten terbaik lo. Wkwkwk. Tahun 2018 lalu dapat kesempatan main lagi ke sana untuk lomba. Alhamdulillah.

Tidak berhenti di media cetak saja, aku mendapat kesempatan untuk belajar lebih jauh tentang pertelevisian. Oh iya, fyi Kojurda ini di bawah naungan televisi lokal yakni KSTV. Nah saat itu ada satu program yang diadakan khusus untuk anak-anak muda gitu, dan dapatlah kesempatan mengisi di situ. Asik banget. Lanjut-lanjut, aku juga mendapat kesempatan untuk kunjungan studi lagi nih. Kali ini di televisi nasional, ANTV, Trans TV/ 7, dan Metro TV. Kalian ingat program Pesbukers, Show Imah dan Empat Mata (belum ada bukan) tidak? Nah, aku dan kawan-kawan jadi penonton bayaran yang di bayar tour studio. Asik banget. Diizinin main kamera TV, lihat bentuk script, praktek reporter, dan lain-lain.

Dari kisahku itulah, alasan mengapa aku tertarik di jurnalistik kreatif. Namun, karena satu dan lain hal, saat kuliah aku hanya fokus ke kepenulisannya saja. Tertunda mendalami disiplin ilmu itu lebih lanjut. Cukup. Berikut beberapa karya jurnalistik milikku yang telah diterbitkan media.

1. Karya dalam surat kabar




2. Karya dalam media daring







Catatan: akan terus diperbarui.



Sekilas tentang Harga Diri

Hai pembaca. Sebab pekan lalu aku sudah cerita-cerita. Sekarang waktunya bahas sesuatu yang sedikit membutuhkan riset. Tetapi sebelum ke topik utama, yuk sama-sama doain beberapa wilayah di Indonesia yang sedang mengalami musibah. Semoga dikuatkan Tuhan dan lekas pulih dengan keadaan terbaik. Aamiin. Terima kasih.

Kalian pernah gak sih ada di masa, suka banget menyalahkan diri sendiri? Setiap sedikit kesalahan yang dilakukan, even dia tidak terlalu berdampak dan mudah diperbaiki, kalian tetap saja tidak terima dengan kesalahan yang sempat kalian lakukan tersebut. Pasti pernah ya? Atau pura-pura bodo amat padahal hati terdalam berkata, seharusnya aku tidak begini, tidak begitu lalalala.

Itu yang akan kita bahas kali ini. Harga diri atau biasa disebut self-esteem. Kalian mengartikan harga diri itu apa sih? Perasaan cinta terhadap diri sendiri? Atau rasa bangga sebab menjadi diri yang sekarang? Atau sebuah penilaian individual terhadap dirinya sendiri? Banyak sekali pengertian mengenai apa itu self esteem, aku coba kutip salah satu pendapat yang menurutku paling relevan ya. Kata Rosenberg dalam Hughes (2003) harga diri adalah evaluasi positif dan negatif terhadap diri sendiri, dengan kata lain bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Nah, harga diri ini bisa berhubungan dengan dimensi yang lebih spesifik, seperti penampilan fisik, kemampuan akademik, kecakapan sosial, dan keterampilan (Sanitioso dkk, 2015)

Lagi-lagi, pandangan terhadap harga diri tiap orang berbeda, begitu pula dengan maknanya. Dalam buku karya Yoon Hong Gyun, ada tiga pilar dasar dalam harga diri, yakni rasa kebermanfaatan, kontrol diri, dan rasa aman. Orang yang merasa dirinya tidak berguna, terbuang, tidak terkontrol, sering terganggu emosi negatif, dan gelisah akan sulit menerima dan mencintai dirinya. Jadi, harga diri dapat pula diartikan sebagai kecintaan seseorang terhadap dirinya sendiri.

Seberapa dalam kamu sudah mencintai dirimu? Ini nih yang sedang naik daun, gerakan mencintai diri sendiri (self love). Tampaknya manusia sekarang banyak yang beranggapan manusia lain sebagai juri kehidupan ya.

Aku menelusuri makna harga diri bukan tanpa sebab. Ada beberapa kejadian yang menyebabkan aku resah dengan diriku akibat cara pandangku terhadap lingkungan. Terlalu sering berkata “seharusnya”. Padahal itu sungguh melelahkan, bukan? Hingga akhirnya aku bertanya pada sosok terdalam dari diriku. Siapa kamu? Apa yang kamu cari? Apa yang kamu beri? Terkesan menodong ya, wkwkwk. Memang, pemulihan harga diri harus dimulai dari diri sendiri.

Nilai. Pernah baca atau dengar kalimat, tanamkan nilai pada dirimu atau orang lain yang akan menanamkannya. Intinya adalah beri kesan siapa dirimu (personality bukan identity) ke orang lain. Memang kita tidak bisa mengontrol hasil akhir perspektif orang, tapi kita bisa membentuknya. Menurutku, memulihkan harga diri atau mencintai diri sendiri bukan berarti memanjakan. Kita tetap harus hidup sebagai “manusia”. Manusia yang menghargai keadaan dan sadar bagaimanapun kita tidak hidup sendirian. Salah satu caranya dengan tidak menyalahkan diri sendiri dan fokus pada pemulihan. Kalau secara spiritual sih ikhlas, sabar, dan tawakal. Udah. Panjang amat ceritanya, Rosi. Agar bersifat praktik gitu.

Jadi, jangan mau kalah dengan keadaan. Mulai perbarui nilai dan memerdekakan diri dengan merasionalkan kenyataan. For your information, kita bisa lo kasih energi pada emosi kita. Syaratnya sadar. Hihihi. Selesai sudah tulisan kali ini. Ada beberapa sub topik yang bisa jadi bahan tulisan selanjutnya yang masih berhubungan. Nanti deh. Bye!



(masih) Bicara Kilas Balik


Masih pekan satu kan sekarang? Kali ini mau cerita aja sih. Santai, tidak mikir dan tidak riset. Sebentar, hai... aku belum salam. 
Assalamualaikum teman-teman. Bertemu lagi dengan pemilik blog yang berkunjung hanya untuk pelarian. Agar perlahan pulih mari menambah koleksi tulisan lagi mulai pekan satu 2021.

Masih saja kilas balik ya, Ros. Iya. Blog-ku belum dapat jatah. Akhir pekan lalu, aku bertanya tentang apa makna 2020 melalui instagram. Jawaban teman2 beragam. Semua menarik dan sudah terespon, baik publik maupun pribadi. Kini saatnya aku bercerita 2020 tentang diriku yang bertumbuh dengan banyak pupuk jenis baru.

2020 aku awali dengan tugas akhir program sarjanaku. Aku tahu jika aku bicara skripsi akan panjang, melelahkan, dan dramatis tapi bakal banyak pesan alam di sana. Jadi, kubuat episode khusus. Nantikan saja kalau berkenan.

Selain itu, awal tahun aku juga hectic dengan program relawan dan program festival buku di Malang Raya. Satu hal yang paling kusyukuri adalah kesempatan bernegosiasi dengan lebih dari 30 pembicara. Bisa dibilang keluar dari zona nyaman ya, sebab aku harus benar-benar membuka diriku seakrab mungkin dengan orang baru; dengan beragam bidang. Bisa juga pengalaman ini menjadi pintu awal aku berani mengenal lebih banyak orang dan lebih banyak lagi disiplin ilmu. Cukup melelahkan tapi penuh cerita.

Belum kelar penelitianku yang kurang satu pertemuan, pandemi tiba. Alhasil, perputaran otak terjadi dengan banyak solusi dadakan. Pasca itu, tagar #dirumahaja menjadi keresahan tersendiri bagiku. Ada hal yang ingin buru-buru kurampungkan tetapi harus diurungkan. Aku belajar menerima keadaan dan mencoba tidak menyalahkan siapa-siapa.

#dirumahaja juga membuatku lebih banyak merenungi diri bersama Tuhan. Asyik, lama tidak kencan begitu dekat dengan Tuhan :( Luaran dari seringnya berbincang dengan diri sendiri dan Tuhan membuatku memahami diriku lebih jauh (lagi).

21 tahun. Aku tidak pernah merasa diriku setertekan saat itu. Aku rasa kegagalanku tiba. Merasa tidak tahu harus melangkah kemana. Yang harusnya selesai belum juga usai. Bisa dibilang gagal terbesarku adalah khawatir terhadap kehendak Allah yang jelas kepastian dan ketepatannya. Mau menangis kalau ingat.

Hingga akhirnya aku membuka diriku lagi untuk bertemu orang baru. Berkenalan, bercerita, belajar, dan bertindak agar tetap waras. Aku tahu tidak hanya aku yang merasa resah atau mungkin kehilangan arah kala itu. Tapi jelasnya, semua bisa lolos uji tahunan. Yeay! Mari berucap syukur bersama. Alhamdulillah.

Aku mulai bekerja lagi, beraktivitas, dan terhubung walau dalam jaringan. Pikiranku masih tentang tugas akhir, tetapi dengan segala usaha yang telah kulakukan tetap saja, aku hanya bisa mengendalikan diriku; bukan orang lain.

Di sela-selanya aku aktif dalam program relawan pendidikan dan literasi, serta magang di start up digital marketing. Kisah dan asah keterampilan baru, khususnya menyajikan konten SEO untuk klien. Aku melakukannya karena aku sering rendah diri jika tidak terhubung dengan apa dan siapa.

Singkat cerita, aku berhasil selesai tanpa menjadi gila yang sebenarnya. Hahaha. 

Sudah. Tamat sampai situ? Belum.

Akhir tahun 2020 aku kembali patah hati sesaat setelah memutuskan jatuh hati. Roller coaster banget ya 2020. Banyak yang hadir tiba-tiba dan mengejutkan. Termasuk aku. Aku juga terkejut atas diriku sendiri.

Kejadian yang menimpaku di bulan 12 adalah kejadian paling cepat sepanjang tahun. Dengan segala prasangka yang telah ditutupi kepercayaan, ternyata tetap saja kecewa dengan ekspektasi sendiri. Ya, sekali lagi diajak bercanda dengan waktu.

Tidak apa. Semua belajar. Belajar mengontrol diri agar tidak sering lagi menyakiti. Dengan segala sudah yang kupaksakan serta segala kecewa tanpa penyesalan, aku jadi bertanya "apa yang perlu kuperbaiki agar tak terulang lagi?" Tampaknya benar kata Ibu.

"boleh menginginkan, memperjuangkan, hingga menangisi sesuatu ketika hilang, tapi sekuat apapun jangan sampai kehilangan diri. Tetap kamu yang utama." Mungkin itu.

Paling lapang ya tetap mengoperasikan pikiran dan menghargai proses. Hanya satu, makna tidak pernah hilang.

Sekian dari 2020.

Bicara Kebiasaan Menunda

sumber: twitter
Siapa di antara kalian yang proscrastinator? Aku rasa pernyataan Piers Steel, seorang ahli tingkah laku manusia akan sedikit menenangkan kalian yang sering menunda pekerjaan. Kata beliau, 95 dari 100 manusia suka menunda pekerjaannya. Itu artinya, kamu masih dalam lingkaran kewajaran. Tapi nih, kalau terus-terusan melakukan aktivitas menunda selain merugi, ternyata bisa juga menjadi gangguan psikologis, Teman.

Aku pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang manfaat menunda pekerjaan. Apa? Emang ada manfaatnya? Wkwkwk. Nah ini yang akan aku tulis, berdasarkan pengalaman dan apa yang aku baca.

Procrastination atau kebiasaan menunda adalah aktivitas yang sebenarnya muncul bukan karena seseorang memiliki masalah terhadap waktu atau tugasnya. Namun bermasalah terhadap mood. Kondisi ini tidak permanen, tidak pula muncul sekali waktu. Ia cenderung berulang. 

Hm, setelah menunda suatu pekerjaan, apakah kamu merasa bersalah? Perasaan tersebut muncul karena kamu secara sadar dan sukarela memilih untuk berkata pada dirimu sendiri, "nanti aja deh ngerjainnya." Baru deh kena tomorrow syndrome.

Oke oke. Apa saja sih yang bisa menjadi faktor kamu menunda pekerjaan? Dari karakteristik kerja, ada yang namanya stressor kanan kiri yang memengaruhi. Entah itu tanggung jawab yang kompleks, peran yang ambigu, struktur yang tidak jelas birokrasi, dll. Semakin  seseorang butuh usaha untuk menghadapi stressor tersebut, semakin sulit meregulasi mandiri. Itu artinya semakin besar peluang seseorang untuk menunda pekerjaan. Itulah mengapa Margaret Etwood pernah bilang bahwa kecenderungan menunda bagi seorang penulis itu sangat besar, ya karena setiap halaman baru, kamu akan disajikan lembaran kosong yang perlu kamu isi. Begitu.

Lalu gimana dong?

Ada beberapa tips gabungan dari Emilia dan Samantha Leath yang insyaAllah sedikit demi sedikit bisa diterapkan. Jangan langsung, pelan-pelan. Wkwk.

1. Kalau masalah menundamu terletak pada stressor yang ambigu. Maksudnya, apa yang berhubungan dengan tugasmu masih belum jelas, klarifikasikan dan diskusikan. Biar nemu jawaban.

2. Berhenti menghakimi dirimu dan pekerjaanmu, bahkan saat pekerjaanmu belum tuntas. Asli, ini bikin malas nglanjutin. Hehe. 

Aku pernah baca tulisan orang, "don't spend too much time finding mistakes on it work while u re still in the process of making something. Do it later. But don't let the obsession to perfection hold you from doing what matters or make you think that you are not good enough." Begituu guys.

3. Bikin To Don't List

Misal, gak akan chat doi mulai jam 8 sampai istirahat siang. Atau menjauhkan bantal dari tempat kerja. Atau buka Instagram setelah satu jam full bekerja. Atau apapun. Setiap orang akan beda-beda, yang jelas pasang usaha lebih untuk distraction tersebut. Aku tahu ini sulit pol, tapi buat gratifikasi instan tersebut lebih susah diakses. Diri kalian sendiri yang tahu jawabannya.

4. Don't toggle between assignments. Berapa tab yang kalian buka saat mengerjakan sesuatu di laptop? Dan apakah semuanya berkesinambungan? Yaaa! Multitasking justru menimbulkan masalah baru. Satu aja belum beres kok ya nambah. Duh.

5. Nah kalau ini yang biasa aku lakukan. Ketika suatu tugas diberi deadline, pasang deadline kamu secara pribadi. Aku pribadi lebih suka melihat catatan tugasku sendiri dari pada DL dr sumber penugasan. Biasanya aku pasang deadline H-3 sampai H-1 dari deadline asli, dengan begitu semalas apapun aku, sedikit meminimalisasi keterlambatan dan kegupuhan. Kalau lagi gak malas ya ada tambahan waktu untuk koreksi dan perbaikan.

Oke, mungkin itu dulu. Nanti disambung lagi dengan topik lainnya. 

Remember, everyone falls into the procrastination trap. There's even research to prove it. All that matters is that at some point you put down your distraction and refocus. 

Saling dukung ya.


Mengapa Punya Hobi Membandingkan Diri dengan Orang Lain


"Kok dia bisa ya lulus duluan? Padahal aku lebih rajin bimbingan."
"Dia bisa jadi volunteer internasional, berarti aku juga harus bisa. Kan bahasa Inggrisku tidak kalah oke dengannya."
"Pencapaiannya banyak banget ya, gak kayak aku yang kentang gini."
"Pengen deh jadi putih seperti mbak itu."

Dan banyak ungkapan-ungkapan lain yang pada intinya adalah membandingkan diri. Bahan rujukan untuk membuat tulisan ini sudah ada sejak aku sadar, mengapa aku sering menetapkan standar diri berdasarkan apa yang aku lihat. Beberapa waktu termotivasi, beberapa waktu lagi iri, sisanya overthinking. Mantap gak tuh. Nah, tulisan ini akan membahas tentang, sebenarnya perlu gak sih membandingkan diri dengan orang lain?

Dikutip dari salah satu jurnal American Psycological Association tahun 2010, intinya membandingkan diri adalah menjadikan (kondisi dan posisi) orang lain sebagai sumber informasi untuk menentukan kondisi dan posisi kita. Dalam hal apa? Kemampuan (how we are doing) dan opini atau pendapat (how we should think, feel, and behave). Nah, aktivitas membandingkan diri jika sudah mendalam tidak hanya melibatkan hal yang lagi dibandingin aja, tetapi juga memiliki dimensi yang berkaitan. Misalnya,  membandingkan kemampuan presentasi, kita tidak hanya melihat hasilnya saja oh presentasinya oke, seluruh audience tertuju padanya. Tidak, tetapi juga memperhatikan hal-hal yang berkaitan seperti usia, durasi berlatih, mentor, pengalaman, pola, dll. Kalian sering gak sadar kan jika aktivitas membandingkan diri kalian sudah sejauh itu?

Motif dari social comparison ini beragam, ada yang digunakan sebagai evaluasi diri, pengembangan diri, memperkuat diri atau menciptakan rasa yang lebih baik, dan ajang menentukan identitas sosial. Nah, mengapa sih proses membandingkan diri itu ada? Biasanya kita membandingkan diri dengan orang yang memiliki unsur kesamaan dengan kita. Dari jenis-jenis social comparison, paling populer dan paling banyak dialami adalah Upward Comparison a.k.a membandingkan diri pada orang yang kita anggap lebih mumpuni/baik/pantas dari kita. Konsekuensinya ada dua, termotivasi atau iri. Nah loh. 

Membandingkan diri semakin mudah dilakukan seseorang dengan adanya media sosial. Kalau kata Emiliats, kapasitas individu untuk memilih target perbandingan terbatas pada pilihan yang tersedia. Nah, tadi kan sudah dikatakan bahwa kesamaan menjadi faktor kuat dalam membandingkan diri.  Jadi, besar potensi media sosial dalam menunjang aktivitas membandingkan diri. Bayangin deh, banyak hal yang secara sukarela disebarluaskan dan tanpa disadari kita mengonsumsi bermacam-macam hal yang sama (usia, gender, pendidikan, hobi, dan mungkin lebih spesifik dari itu). Efek membandingkan diri ini bergantung pada dua faktor, kondisi pelaku dan bagaimana pelaku mengelolanya.  

Sampai sini rasanya, meminta agar diri berhenti melakukan banding-membandingkan sedikit tidak realistis. Sebab, aktivitas tersebut merupakan respon alami ketika kita menemui seseorang yang memiliki kesamaan mencapai pencapaian yang lebih. Akan lebih realistis, jika mencoba melakukan hal-hal yang disarankan oleh Emilia berikut.

1. Tanyakan fungsi atau motif dari upaya kamu membandingkan diri. Kalau tidak menemukan motifnya, urungkan!
2. Data insight yang didapatkan dari aktivitas membandingkan diri. Bisa berdampak gak? bantu kamu mencapai motif yang dimaksud gak? Kalau nggak, itu toxic. Hentikan!
3. Bangun support system yang kuat dan mengerti. Support system ini akan bantu kamu untuk mengingatkan kamu kalau secara tidak sadar mulai bandingin diri dan menyiksa self-esteem.

Sadar atau tidak, membandingkan diri pasti terjadi. Justru tidak realistis ketika melarang diri untuk tidak membandingkan diri atau sampai berhenti total. Sebab semesta bukan hanya kamu penghuninya. Setelah membaca tulisan ini, aku harap kita semua bisa lebih paham kondisi dan tahu apakah membandingkan diri yang kamu lakukan itu memberi keutungan untukmu. Apalagi tidak semua dimensi ketersinambungan atau related dimension kita ketahui. 

Jadi, yuk lebih berani mengontrol, menolak, dan bilang enggak kalau memang meracuni. Sampai jumpa ditulisan berikutnya.

Selembar Surat untuk Ayah Ibu


Jujur saja, ayah ibuku tidak pernah tahu anaknya manis berkata-kata. 

Mereka hanya tahu aku gemar menulis. Itu saja. 

Nanti, saat aku bukan lagi tanggung jawab mereka, aku ingin mereka tetap menganggapku putri kecilnya yang gemar membuat ayah marah sebab suka lama membalas pesan, dan gemar merengek pada ibu tentang kehidupan. 

Aku ingin ibu tahu, aku lahir dari kesabarannya. Bukan dari rahim yang sempat membuatnya kesakitan sepanjang malam.

Aku ingin ayah tahu, aku dirawat oleh tawanya di penghujung hari penuh lelah. Bukan dari emosinya saat aku menjawab belum makan ketika ia bertanya.

Aku ingin ayah-ibuku tahu, sejauh apapun langkahku pergi, kita akan tetap rekat dengan doa.

Agar suatu ketika aku merasakan kurangnya hidup, aku tahu bahwa ayah-ibuku tak pernah lelah memberi cinta-- di atas macam keluh yang mereka simpan diam-diam.


Kediri, 23 tahun ayah-ibuku bersama.




Destinasi Masa Mendatang

Doa baik agar sumber gambar tidak comot dari Pinterest
melainkan dokumentasi pribadi. Amin.

    Mimpi yang mana yang Tuhan kabulkan untuk kita     adalah kejutan
    Kita harus percaya apapun yang Ia berikan adalah        takdir terbaik untuk hamba-Nya

    Bicara tentang destinasi impian
    Tetap saja Baitullah menjadi yang utama

    Beribu destinasi indah yang ingin disinggahi,
    Indonesia dengan pulau-pulau apiknya
    Banyak negara dengan bangunan megahnya
    Tempat-tempat manis yang memanjakan mata
    Tetap saja Tanah Suci yang paling romantis

    Suatu ketika
    Atas usaha yang telah aku lakukan
    Dan atas waktu yang dikuasakan Tuhan


Ayahku, ibuku, adikku, atau mungkin juga suamiku akan menemaniku bersimpuh sujud di sana

Aku ingin membawa mereka merasakan nikmatnya melepas Jumat subuh di Masjidil Haram
Menikmati zikir pagi bersama mentari Makkah
Memanjat doa di sepanjang hari yang syahdu
Dan menutup hari dengan limpahan syukur dengan langit senja di atas Ka'bah
Aku ingin.

Asrama UM: Sebuah Cerita dari Rantau

Jika suatu ketika ada yang bertanya padaku, hal paling berkesan selama kuliah, aku akan menjawab asrama dan cerita-cerita yang tercipta. Tak hanya itu sebenarnya, namun asrama menjadi begitu istimewa sebab di situlah aku tersesat dan menemukan banyak makna yang berpengaruh bagiku. 

Dulu, ketika aku resmi menjadi mahasiswa UM, Rosi bilang ke ibu, "cari kos susah ya, Bu. Gak ada yang cocok, gimana kalau asrama aja?"  

Reaksi pertama ibu yang pasti terkejut dan merespon, "yakin a?" wkwkwk. 

Aku diam tidak menjawab. Begitu pula ayah yang saat itu turut mendengar obrolanku dengan ibu. Suasana sunyi tercipta beberapa detik, lalu ibu melanjutkan ucapannya, "asrama pasti banyak aturannya, kalau ibu sih senang dan merasa aman kalau Rosi mau di asrama, tapi apa Rosi gak tertekan, takutnya justru ganggu kuliahmu."



Singkat cerita, dengan banyak pertimbangan kami sepakat memilih asrama. Biar kuingat, saat itu aku mendaftar, seleksi, dan semuanya sendiri karena ayah sibuk dengan pekerjaannya. Aku tak bermalam di Malang, aku langsung balik Kediri setelah wawancara. 


Sejujurnya, banyak hal yang membuatku cemas dan ragu jika nanti menjadi bagian dari asrama. Terlebih jika sifat tidak mau diaturku ini tidak dapat terkontrol dengan baik.

Bulan-bulan pertama di asrama, aku sulit sekali beradaptasi, khususnya tentang berbagi kamar. Bagiku kamar adalah privasi, tapi saat di asrama harus rela menipiskan dinding dari  istilah privasi. Saat aku terbiasa tidur dengan lampu padam, aku harus mengalah dengan lampu terang. Saat aku terbiasa me time di dalam kamar tanpa ada yang bisa mengganggu, aku harus sadar jika ini kamar bersama. Ketika teman kamarku kesulitan entah sakit atau sedih, aku harus peduli dan merelakan aktivitasku untuk mendengar ceritanya. Ya. semua kebiasaan itu terbilang baru untukku. 


Semester satu aku cukup riweh dengan banyaknya kegiatan yang harus aku ikuti. Kuliah dan tugas-tugasnya; kegiatan jurusan, fakultas, universitas; ditambah kegiatan asrama. Semua berjalan bersama tanpa ada yang mau mengalah. Benar-benar ajang adaptasi yang menguras emosi dan energi.

 

Memasuki semester kedua, beragam cerita asrama mulai membuatku nyaman, walau tidak semua menyenangkan namun cukup membuatku mengerti pentingnya kepedulian, mulai sayang. Akhirnya aku coba mendaftar sebagai Pengurus Rumah Tangga Asrama dan diterima. PRTA adalah organisasi pertamaku pada masa kuliah. Walau jika aku harus jujur (lagi), aku tidak sepenuh hati dalam mendaftarkan diri sebagai PRTA. 

Semua kisah-kisah di asrama masih tersimpan rapi sekali dalam kotak kenanganku. Begitu panjang dan melelahkan jika kuulas semua. Huhu. Ingin rasanya kutulis menjadi bagian tersendiri dalam bukuku nanti. Allahumma Shalli ala sayyidina Muhammad. 

Rapat tiap malam, proker menumpuk, dimarahin ibu satpam sampai nangistugas kuliah yang kurang maksimal, begadang siapin proker, paginya pas kuliah ngantuk, padahal aku gak bisa merem kalau di kelas, masalah makan gak usah ditanya-- sangat tidak tepat waktu. Banyak hal-hal baru yang membuatku lelah namun kalau dinikmati asik juga. Hehe.

 

Cerita demi cerita terus bertambah hingga tahun kedua aku di asrama. Punya adik-adik ratusan, saudara-saudara satu atap yang tanpa sadar sangat mengenal bagaimana aku. Banyak. Seperti kataku, semua cerita masih terekam cukup jelas dalam pikiranku. Beberapa yang sangat berkesan aku simpan dalam hati. 

Asrama. Selalu meninggalkan bekas yang tak ingin dilepas. Melimpah cerita dan pengalaman. Kalian tahu hal paling mengubahku saat di asrama? Menjadi imam salat dari ratusan warga asrama. Nuansa hatiku berubah tanpa bisa kujelaskan rasanya. Benar-benar damage unik dan luar biasa. Pengen nangis pas nulis bagian ini. Kangen banget sama asrama yang sudah banyak pembangunan hehe.

 

Hingga tiba pada aku sebagai salah tiga dari saudaraku, Ama dan Taqi yang melanjutkan asrama di tahun ketiga. Qadarullah, di awal-awal, aku yang sangat tidak nyaman dengan atmosfer asrama justru menjadi salah satu dari tiga warga yang paling lama bertahan. Semesta memang lucu, dipinta Tuhan untuk menjadikan penghuninya terkejut dengan kuasaNya yang luar biasa. 

Aku ingin cerita lebih banyak lagi tentang asrama. Tentang kepedulian, berbagi, cinta, semua. Namun tidak di sini. Nanti kapan-kapan. Yang jelas, terima kasih untuk semua cerita dan pelajaran berharga dari asrama dan penghuni-penghuninya. Aku rindu.

 


Bahagia dari Diri Sendiri

Apa yang membuatmu bahagia? 

Apa ketika kamu mendapat nilai A di setiap mata kuliahmu? 

Apa ketika bosmu berkata, gajimu naik per bulan depan?

Apa ketika pasanganmu rutin menyisihkan waktu untukmu di tengah kesibukannya?

Atau mungkin saat kamu mendengar kabar bahwa ada temanmu mencapai keberhasilan berkat saran dan bantuanmu?

Tampaknya memang tidak ada ukuran yang jelas untuk sebuah kebahagiaan. Pernah gak sih kamu justru cemas ketika nilai seluruh mata kuliahmu baik atau bahkan hampir sempurna? justru overthinking saat bosmu memberi kepercayaan lebih padamu? Bahkan kamu takut jika pekerjaan pasanganmu akan berantakan karena waktu yang rutin ia sisihkan? Hm, mungkin juga kamu bingung, mengapa temanmu berhasil menerapkan saran-saranmu, sedangkan kamu tidak. 

Hahaha, pikiranku terlalu menyebalkan ya?

Nah, ini nyambung dengan bagian pertama rubrik ini. Seperti kataku, aku adalah orang dengan banyak pertimbangan. Orang yang punya banyak pilihan konsep, gagasan, namun cukup sulit mewujudkan. Jadi, jika ditanya mengenai hal apa sih yang membuatmu bahagia?

Jawabanku hanya, ketika aku bisa percaya bahwa semua itu semudah  jalani saja dulu

Ya. hidup memang kumpulan pilihan-pilihan. Setiap alur yang kita lewati selalu menyajikan pertanyaan, mau yang mana? kemana? dengan siapa? Pertimbangan itu perlu, namun mencari terlalu banyak pertimbangan dalam penentuan pilihan ternyata cukup menghabiskan waktu dan energi. Seringkali, karena terlalu sibuk dengan pertimbangan kita lupa dengan hal lain yang menunggu giliran.

Seseorang pernah mengirim pesan singkat kepadaku, intinya, jangan terlalu khawatir dengan masa depan, lebih baik jalani saja yang di depan mata dengan maksimal.

Ditambah lagi setelah membaca bukunya Mark Manson yang populer dimana-mana. Katanya, "Anda tidak akan pernah bahagia jika Anda terus mencari apa yang terkandung di dalam kebahagiaan." terlihat menarik untuk disangkal, namun maknanya dalam. Coba baca bukunya!

Benar, kita tidak akan tahu apa yang ada di balik pintu jika kita tidak segera membukanya. Bisa jadi sepuluh menit dari sekarang hal baik dari balik pintu tersebut berubah, dan kita kehilangan kesempatan. Jalani saja dulu, Ros! urusan hasil urusan Tuhan.


Tentang Diri Ini



Halo Oktober dalam blog!

Agar kamu lebih bermakna, biarkan tuan rumahmu mengisimu dengan beberapa tantangan. 

Tantangan ini datang dari  story WhatsApp seorang teman. Berbicara tentang konsistensi menulis, ini bukan tantangan yang baru sih, namun tidak salah untuk mencobanya (lagi). Aturan mainnya, ada 30 topik untuk 30 hari yang sudah ditentukan sebelumnya. Dan semua tulisan tersebut akan aku unggah pada halaman blog-ku setiap hari. Seharusnya sih mulai 1 Oktober, tetapi baru aku mulai di pekan kedua Oktober 2020 dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya terkait persiapanku menghadapi sidang akhir. 

Oke, cukup pembukaannya. Sekarang Rosi mulai untuk tantangan hari pertama. Mendeskripsikan diri sendiri. Hm, mari kita mulai.

Sejujurnya aku cukup narsis jika bicara tentang diri sendiri. Bagiku, menceritakan diri sendiri adalah bentuk usaha mengenal diri. Baik pencapaianku, maupun keteledoranku. Jika mengacu pada hasil tes kepribadian MBTI, aku adalah tipe manusia ENFP- A/T Campaigner. Dari sini sudah bisa ditebak di mana letak nyamanku. Aku kurang suka bergantung pada orang lain dan diatur orang lain, itulah mengapa bepergian atau melakukan sesuatu seorang diri bukan hal yang sulit untukku. Bisa dikatakan aku lebih nyaman dengan diri sendiri, atau mungkin hanya pergi dengan dua hingga tiga orang saja. Tapi, kok ekstrovert ya? Sebab aku cukup mudah bersosialisasi, mungkin.

Aku melihat diriku sebagai manusia paling netral yang tidak punya dominasi apapun. Jika ada, itupun hanya selisih sedikit. Inilah mengapa aku menjadi terkesan kurang berciri khas. Di tempat sepi ok, di tempat ramai ayo. Aku bergaul dengan teman-teman tipe A ok, dengan tipe B pun tidak masalah. Begitu netralnya aku, hingga sikap plin-plan sering muncul ketika aku akan menentukan pilihan. Lama dan banyak pertimbangan. Inilah mengapa aku perlu teman yang tegas dan bisa menuntunku. Teman hidup, eh. Teman apapun juga sih.

Siapa yang mengenalku lalu menilaiku sebagai orang yang suka sekali membaca dan jatuh hati pada buku? kenyataannya tidak begitu. Aku sama dengan kalian yang masih suka ngantuk ketika baca buku. Aku sama seperti kalian yang lebih betah scroll media sosial daripada bolak-balik lembaran buku. Lebih tepat jika dikatakan, aku tertarik pada sebuah cerita. Baik mendengarkan, bercerita, maupun membaca. Di masa kecil, ayah sering membelikanku buku cerita, dari situlah kebiasaan betah bacaku mulai. Pada masa kecilku pun belum ada podcast dan youtube, hwehe. Jadi, selain tayangan kartun di TV ya buku cerita hiburanku. 

Oh iya, aku mudah kagum dengan orang-orang yang aku kenal; mudah tertarik dengan orang-orang pemberi inspirasi, bahkan untuk hal sederhana, sesederhana murah senyum terhadap sesama. Apalagi dengan orang-orang yang bisa memberikan pengaruh kepada sekitar. Pokoknya, ketika aku sudah kagum dengan seseorang, siapapun dia, pasti dia memberi kesan tersendiri di mataku.

Apalagi ya. Wkwk. Aku penikmat keseimbangan. Maksudnya gini, aku tidak bisa benar-benar tidak melakukan apapun, tapi aku juga bakal tertekan jika terlalu banyak urusan di kepala. Ribet pokoknya, sifat labilku juga muncul karena ini--karena semua ingin seimbang. Hahaha. Kadangkala aku gemas dengan sikap labilku yang lumayan sulit terkontrol.

Udah ah, makin panjang bakal makin dalam. 

Jelasnya aku adalah Rosi yang ingin terus bertumbuh menuju utuh dan berfungsi dengan caraku. Terima kasih untukmu yang telah sudi mengenalku. Sampai jumpa pada ceritaku berikutnya. 

#IniUntukKita – Literasi dan Keseimbangan Gaya Hidup Finansial Milenial | Membaca Masyarakat

            

Berapa kali kalian nongkrong dalam sebulan? 
btw, aku baru sadar kalau pas nongkrong jarang foto. wkwk.
sumber: koleksi pribadi

            Jika pada tulisan sebelumnya adalah fiksi mini, maka aku akan menyapa kembali rubrik lama dalam blog ini—membaca masyarakat. Assalamualaikum, teman-teman. Pandemi sudah berapa bulan ya? Jangan lupa tetap jaga kebersihan dan kesehatan. Pakai masker dan cuci tangan sudah menjadi kewajiban di era normalitas baru kan. Jangan abai ya!

            Membaca masyarakat episode ke tiga, aku akan mengajak kalian berdiskusi tentang cerita finansial versi aku. Sebelumnya, aku mau tahu dong, kapan pertama kali kalian “memikirkan” keuangan? Ketika kalian kuliah tahun pertama? Atau ketika sudah bekerja? Kalau aku, ketika aku kehabisan uang. Hehehe. Jadi, ada suatu masa di mana jatah uang bulanan habis sebelum waktunya. Nah, jika di bulan-bulan sebelumnya aku cukup percaya diri dengan gaya hidupku, keadaan tiba-tiba berubah. Saat itu income yang aku dapatkan lebih banyak dari bulan-bulan sebelumnya. Selain uang bulanan dari ayah, aku juga dapat pemasukan dari hadiah lomba dan gaji freelance yang seharusnya sih bisa ditabung. Eh, kok malah hanyut terbawa arus gaya hidup. Hmm. Long short story, aku mulai berpikir, sebenarnya seberapa konsumtif kah aku? Lalu kalian bertanya, gak punya simpanan, Ros? Punya! Pada akhirnya aku menggunakan dana simpananku yang waktu itu masih di bawah pengawasan ayah. Tapi bukan itu pembahasan kita. Kita akan berdiskusi mengenai bagaimana menyeimbangkan gaya hidup dengan kemampuan finansial.

           Kalian pernah gak sih pasang nominal rupiah untuk jatah ngopi atau budget nongkrong kalian dalam sepekan? Kalau pernah, berapa persen kepatuhan kalian? Kalau belum sila dicoba. Honestly, aku paling payah mengatur keuangan. Sejak zaman sekolah, ibu sudah mengajariku untuk mengelola uang saku, jadi jatah bulanan gitu, tapi banyak hal yang membuatku gagal menahan agar uang tersebut terpakai secara bijak. Sebentar, alur ceritaku muter-muter ya. Begini, menyambung dari cerita sebelumnya, aku sadar bahwa aku memiliki masalah finansial yang jika tidak segera ditangani akan menjadi krisis.

            Akhirnya aku mulai baca artikel dan nonton video YouTube tentang pengelolaan finansial. Dasarnya manusia suka ngobrol ya, aku kurang puas jika belum bertukar pendapat dengan manusia lain. Aku bertemu dengan teman dari beberapa kampus, beragam jurusan, dan dengan kondisi finansial yang berbeda; yang sekiranya bisa membantu masalahku agar tidak sampai pada situasi krisis. Dari beberapa diskusi yang insightful, aku menyimpulkan bahwa financial planning adalah kunci untuk memperbaiki kondisi finansial kita, sekaligus menyadarkan kita tentang standar gaya hidup.

            Beberapa hari lalu, aku membuat jajak pendapat di akun instagram @rosidaoktaviaa. Jajak pendapat tersebut aku gunakan untuk memetakan seberapa penting tulisan ini untuk pembaca. Aku mencoba fokus pada kesediaan dan aktivitas keuangan mereka selama masa pandemi. Dari hasil jajak pendapat dengan kurang lebih 72 responden, 53% diantaranya masih memiliki tabungan; namun, dengan persentase yang sama, mereka kesulitan menabung di masa pandemi; 79% diantaranya mengaku kesulitan dalam mengatur keuangan; dan 70% belum menemukan kecocokan dalam mengelola keuangan. Dari hasil jajak pendapat itulah aku memutuskan untuk membagikan sedikit ilmu yang sedang aku terapkan guna meningkatkan keterampilan literasi finansial, terlebih di masa penuh ketidakpastian ini. Berikut perencanaan keuangan yang harus kalian coba.

1. Menentukan Tujuan Keuangan

Di setiap perencanaan pasti ada tujuan yang diharapkan. Nah, kalian harus menyusun financial goals yang achievable dan accountable. Terlihat mudah tapi rumit, guys. Panduannya menggunakan konsep SMART (specific, measurable, attainable, realistic, time based). Misal, aku ingin liburan ke Lombok di akhir tahun. Jadi, aku harus menyiapkan dana berapa rupiah dalam waktu berapa lama dan digunakan  untuk apa saja. Kebutuhan uang saku, akomodasi, tiket masuk, dokumentasi, dll. Makin detail makin bagus. Contoh lain, kalian ingin nikah tiga tahun lagi. Nah, kalian harus tahu nih, pernikahan impian kalian itu seperti apa dengan budget berapa. Catat detailnya, masalah pasangan yang belum ada, dipikir dan dicari sambil nabung. Cakep.

2. Financial Check Up

Untuk mencapai financial goal impian, kalian harus tahu, sadar, dan mengakui kondisi keuangan kalian. Nah, kalian harus mencatat rutin aset, tabungan, hutang, dll. Kalian juga harus punya personal cash flow yang spesifik dan akurat. Berapa pemasukan kalian dan untuk apa saja sih uang itu. Contohnya Rosi lampirkan pada gambar ya. 

Rekam keuangan Bulan Februari yang cukup kompleks. Kalian juga bisa pakai catatan digital lewat gawai,
aku juga punya catatan digital,  tapi tetap lebih nyaman mencatat ulang di buku, hehehe.
sumber: koleksi pribadi

Oh iya, cara ini butuh latihan, konsisten, dan kedisiplinan yang tinggi agar kalian bisa mencapai financial goals impian. Dengan menerapkan sikap jujur dan disiplin mencatat keuangan harian, kalian jadi dipermudah dalam menentukan jalan keluar permasalahan keuangan. 

Oke, aku akan jelasin sedikit tentang monthly budget overview aku. Aku mengadaptasi rasio versi Li Ka Shing, seorang pebisnis asal Hongkong yang membagi keuangannya untuk biaya hidup, sosialisasi, pengembangan diri, liburan, dan investasi. Namun, tetap aku sesuaikan dengan kondisiku. Rasionya, 4-3-2-1. Empat untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk nongkrong; tiga untuk bayar kewajiban; dua untuk uang darurat; satu untuk tabungan dan sedekah wajib. Nah, mengapa alokasi tabungan dan sedekah hanya satu atau 10% dari pemasukan. Kuncinya adalah konsisten. 

Setelah jelas pengeluaran wajib aku berapa, aku jadi tahu saldo uang bulanan aku. Nah lalu uang tersebut aku pisah-pisah dan dimasukan dalam amplop yang sudah kubagi. Untuk uang darurat dan tabungan aku taruh di ATM, agar tidak menggoda. Apabila di tengah bulan aku dapat income dadakan, biasanya aku bagi untuk uang darurat, kebutuhan sehari-hari, dan sedekah. Pokoknya jangan lupa sedekah, walau sedikit nominalnya. 

Aku juga masih suka nabung recehan di celengan doraemonku wkwk.
sumber: koleksi pribadi
 

Apakah teman-teman sudah menerapkan cara di atas? Jika sudah semoga konsisten dan segera mencapai keadaan finansial yang sehat. Jika belum, segera praktikan. Kalian tahu gak, dengan menelanjangi finansial semacam ini, kita jadi tahu, sebenarnya gaya hidup yang cocok untuk kita itu seperti apa, dan bagaimana langkah memperbaiki kondisi tersebut. Baru deh, jika keadaan keuangan kalian sekiranya stabil, coba belajar investasi. Nanti aku cerita setelah aku belajar dari yang lebih ahli ya. Mungkin pembaca blog ini ada yang sudah paham tentang investasi? boleh tuh belajar bersama. Lebih dini kita akrab dengan literasi finansial, lebih cepat pula kita mencapai kemerdekaan finansial kita. Kalian tahu gak, menurut studi Alvara Indonesia: Gen Z dan Millenial Report 2019, bahwa millenial hanya mampu mengalokasikan uangnya untuk ditabung kurang dari 10%, padahal milenial yang sehat secara finansial memiliki dampak yang signifikan terhadap pembangunan Indonesia berkelanjutan. 

Oh iya, standar gaya hidup kalian adalah milik kalian. You only live once, jadi jangan sampai menyesal karena tidak melek finansial sedari muda hanya karena ngikutin gaya penghuni semesta yang gak bisa disamaratakan. 

Coba dong, kalian bagi juga cerita dan tips finansial kalian di kolom komentar.

#IniUntukKita #MerahPutihCreatorCompetition #djpprkemenkeu


Bingung.


Aku  menuliskan ini ketika aku menunggu azan magrib. Ketika dalam pikiranku dibingungkan dengan satu pertanyaan tentang sebuah alasan. Apakah semua hal terjadi karena sebuah sebab? Jika iya, mengapa aku sekarang bingung

Kalian pasti sepakat bahwa kerja semesta mengejutkan. Tidak gampang ditebak, bahkan tentang sesuatu yang dekat dengan kita secara personal. Apakah kalian pernah mengira akan membaca tulisan ini di lima menit yang lalu? Tentu saja tidak.
Lalu, apa alasan kalian memilih mengunjungi kanal ini melalui pranala yang dibagikan penulis? Penasaran? Atau hanya iseng?

Seakan semua perlu alasan. Bahkan untuk hal-hal abstrak yang enggan disentuh otak. Sebagian orang sepakat, bahwa alasan manusia pergi adalah tidak suka. Tapi, apakah itu sebuah kepastian? Tentu saja sebagian manusia lagi akan bicara tentang takdir. Jawaban yang membosankan. Semua manusia bertuhan juga tahu jika Tuhan kita adalah pemilik abadi kita. Atau mungkin sebagian lagi berkata melepaskan, rela. Itu pasti kata pujangga.

Kalian pasti pernah ada dalam kondisi di mana kalian menemukan sebuah alasan atas sebuah peristiwa, tapi tidak yakin jika itu alasannya. Ada alasan kedua, ketiga, hingga keseratus yang mengikuti. Bahkan ada pula yang jawabannya tidak tahu. Kalau belum pernah, kalian hilang sadar.

Sekarang begini,
jawab aku.
Apakah kamu nyaman denganku? Apa alasanmu nyaman atau bisa jadi tidak nyaman dengan kehadiranku?
Apakah jawaban kalian adalah sebuah kebenaran? Perspektif.

Aku tidak menyalahkan pernyataan bahwa segala hal dalam hidup terjadi karena punya alasan. Tetapi, sepakatkah kalian bahwa hidup punya pesan. Bisa baik atau sebaliknya.
Banyak hal tak konkrit yang ternyata tak perlu penjelasan mengapa itu semua terjadi. Di luar sebab Tuhan. 

Mengapa tak memilih fokus terhadap pesan apa yang dibawa oleh sebuah peristiwa, bukan mencari-cari alasan mengapa manusia bisa sampai pada titik tersebut. 

"Karena tidak semua peristiwa punya kalimat yang padu untuk dijelaskan."




Jadi, apa kalian nyaman dengan kehadiranku?

Episode 3 | Bertaut

Akhirnya aku melanjutkan episode ini. Kalau aku harus jujur, bukan karena tidak ada waktu melainkan aku sempat lupa jika ada yang belum tuntas. Maafkan aku.


Aku mulai dari mana ya. Hehe.


Setelah aku menceritakan tindakan aneh beserta dosa-dosanya, aku menemukan satu rasa yang lagi-lagi sulit dijelaskan. Tidak manis, tapi mengejutkan. Bukan bukan, bukan cinta.

Seakan semesta mendukung bahwa aku perlu kamu untuk melanjutkan cerita. Sejak saat aku menyadari kesalahanku, banyak hal-hal kecil saling bertaut satu dengan lainnya. Aku tidak ingin bercerita detail. Jelasnya, semakin aku ingin menyelesaikan Kafka, semakin muncul babak-babak baru yang terlintas di pikiranku. Aku masih ingat jelas, setiap hariku selalu ada paling sedikit satu menit tentang kamu. Menyiksa namun nikmat. 

Sudah kukatakan dari awal. Ini rumit. Hal-hal yang sedih tak selamanya membuat menangis. Begitu pula, momen bahagia tak melulu penuh suka. Ini momen perih yang mengundang tawa.

Kamu tidak jahat. Tidak pula baik.
Aku masih ingat betul saat beberapa waktu Tuhan mempertemukan kita tanpa sengaja. Lalu saling menyapa. Mengobrol. Dan akhirnya kau digoda teman-temanmu. Aku menuliskan ini dengan tersenyum.
Kau berusaha menjadi dewasa di hadapanku. Menjadi lelaki paling melindungi. Melindungi siapapun tak berarti aku. Intinya kamu begitu menarik di mataku, padahal kata teman-teman kita, kau teramat jail dan aneh. 
"Bagaimana bisa aku selesai dengan tokoh Kafka jika Tuhan saja masih menciptakan alurmu dan alurku saling bertaut?"

Sampai detik ini. 

Angin Akhir Bulan Mei



Sebelum Juni menyambut ada kacau yang hampir tiap dini hari menghalangiku terpejam. Ada resah yang sulit kuterjemah. Bahkan ada ranting-ranting pikiran yang sukar aku rapikan. 

Sebelum Juni tiba, ada dia yang datang dan ada dia yang menghilang. Ada perubahan. Ada perbedaan. Ada kejutan. Ada penantian. Dan semua hadir tidak tanpa pesan.
Mungkin saja, bukan hanya aku yang merasa. Bahwa semua terasa berbeda dan tidak seperti biasa.

Ibuku meracik teh untukku sore ini. Tubuhku sedang kurang sehat. Ayahku? Memberi makan burung dan ayam peliharaannya. Ia nampak bosan akibat keadaan, tapi selalu pandai mencari kesibukan. Sedang adikku, menikmati permainan bahasa dalam gawainya yang kutunjukkan semalam.

Rasanya sudah lama tak keluar seharian. Rasanya sudah lama tak berjumpa kawan. Rasanya sudah lama tak bertukar cerita di kedai kota. Rasanya rasanya rasanya, itu saja. Rasanya semua manusia sama saja. Selalu tidak cukup dengan kondisinya, selalu merasa ada yang kurang, bahkan lupa, mustahil menjadi sempurna. Akupun. 

Banyak hal menjadi abstrak di pikiranku. Lalu aku membantahnya, "oh ini namanya rindu." Tapi ternyata bukan, lebih dari rindu. Lalu aku membantahnya lagi, "oh ini namanya cemas." Aku mencoba tenang. Tetap saja, "oh ini namanya sepi." Bukan juga, seharusnya aku tak masalah jika merasa sepi. "Oh ini namanya kurang bersyukur."
Tidak tidak, aku tidak akan mengolok-ngolok diriku yang jauh dari kata taat di sini. Aku tak akan bicara agama. Aku bicara penerimaan. Urusan agama, biar tersimpam dalam kalbu masing-masing. 

Seperti yang telah kutulis di awal, banyak cemas kehilangan nama, banyak ragu yang tak bertuan. Semua seakan kelabu, lupa bahwa aku punya warna usang yang masih pekat lilinnya. Lupa bahwa detik pada jam akan terus berjalan walau kau diam bertopang dagu. Lupa, lupa bahwa manusia punya naskah yang telah ditulis Tuhan.

Penerimaan menjadi topik penutup Mei ini. Berteman hujan yang iramanya tanpa ragu pada balik jendela kamarku.
Aku teringat dengan obrolanku bersama seorang penulis kala itu,
"Kalau suka bilang saja, apa yang salah? Toh cuma mengatakan. Kalau tidak nyaman, bilang jangan menghilang. Ada hal-hal pasti yang tidak selesai dengan diam."

Lalu aku coba menjahit benang-benang 
yang aku punya dari banyak ingatan, dari banyak pertemuan. Tuhan menitipkanku pada semesta-Nya. Dari segala macam bentuk penolakan, ada satu penolakan yang harus diubah menjadi penerimaan. Kuasa Tuhan.

Aku meneguk tegukan terakhir teh racikan Ibu dan menutup kekhawatiran dengan kesempatan-kesempatan tak terduga.