Kalian pernah
gak sih ada di masa, suka banget menyalahkan diri sendiri? Setiap sedikit
kesalahan yang dilakukan, even dia
tidak terlalu berdampak dan mudah diperbaiki, kalian tetap saja tidak terima
dengan kesalahan yang sempat kalian lakukan tersebut. Pasti pernah ya? Atau
pura-pura bodo amat padahal hati terdalam berkata, seharusnya aku tidak begini, tidak begitu lalalala.
Itu yang akan
kita bahas kali ini. Harga diri atau
biasa disebut self-esteem. Kalian
mengartikan harga diri itu apa sih? Perasaan
cinta terhadap diri sendiri? Atau rasa
bangga sebab menjadi diri yang sekarang? Atau sebuah penilaian individual terhadap dirinya sendiri? Banyak sekali
pengertian mengenai apa itu self esteem,
aku coba kutip salah satu pendapat yang menurutku paling relevan ya. Kata
Rosenberg dalam Hughes (2003) harga diri adalah evaluasi positif dan negatif
terhadap diri sendiri, dengan kata lain bagaimana seseorang memandang dirinya
sendiri. Nah, harga diri ini bisa berhubungan dengan dimensi yang lebih
spesifik, seperti penampilan fisik, kemampuan akademik, kecakapan sosial, dan
keterampilan (Sanitioso dkk, 2015)
Lagi-lagi,
pandangan terhadap harga diri tiap orang berbeda, begitu pula dengan maknanya.
Dalam buku karya Yoon Hong Gyun, ada tiga pilar dasar dalam harga diri, yakni rasa kebermanfaatan, kontrol diri, dan rasa
aman. Orang yang merasa dirinya tidak berguna, terbuang, tidak terkontrol,
sering terganggu emosi negatif, dan gelisah akan sulit menerima dan mencintai
dirinya. Jadi, harga diri dapat pula diartikan sebagai kecintaan seseorang
terhadap dirinya sendiri.
Seberapa dalam
kamu sudah mencintai dirimu? Ini nih yang sedang naik daun, gerakan mencintai
diri sendiri (self love). Tampaknya
manusia sekarang banyak yang beranggapan manusia lain sebagai juri kehidupan
ya.
Aku menelusuri
makna harga diri bukan tanpa sebab. Ada beberapa kejadian yang menyebabkan aku
resah dengan diriku akibat cara pandangku terhadap lingkungan. Terlalu sering
berkata “seharusnya”. Padahal itu sungguh melelahkan, bukan? Hingga akhirnya
aku bertanya pada sosok terdalam dari diriku. Siapa kamu? Apa yang kamu cari? Apa yang kamu beri? Terkesan
menodong ya, wkwkwk. Memang, pemulihan harga diri harus dimulai dari diri
sendiri.
Nilai. Pernah
baca atau dengar kalimat, tanamkan nilai
pada dirimu atau orang lain yang akan menanamkannya. Intinya adalah beri
kesan siapa dirimu (personality bukan
identity) ke orang lain. Memang kita
tidak bisa mengontrol hasil akhir perspektif orang, tapi kita bisa
membentuknya. Menurutku, memulihkan harga diri atau mencintai diri sendiri
bukan berarti memanjakan. Kita tetap harus hidup sebagai “manusia”. Manusia
yang menghargai keadaan dan sadar bagaimanapun kita tidak hidup sendirian. Salah
satu caranya dengan tidak menyalahkan diri sendiri dan fokus pada pemulihan. Kalau
secara spiritual sih ikhlas, sabar, dan
tawakal. Udah. Panjang amat ceritanya, Rosi. Agar bersifat praktik gitu.
Jadi, jangan
mau kalah dengan keadaan. Mulai perbarui nilai dan memerdekakan diri dengan
merasionalkan kenyataan. For your
information, kita bisa lo kasih energi pada emosi kita. Syaratnya sadar.
Hihihi. Selesai sudah tulisan kali ini. Ada beberapa sub topik yang bisa jadi
bahan tulisan selanjutnya yang masih berhubungan. Nanti deh. Bye!
Thank you for you inspiring words kak rooss
BalasHapus