LITERASI USIA
Pada kelopak waktu yang disepakati TuhanAku ingin bercerita
/
Usiaku menuju bukit balik kata yang tengah menumpuk
di hampar keseharian
Ia ingin berjarak dari hiruk pikuk kesibukan yang
begitu pekat
Rapat oleh mimpi pada bilik-bilik kekhawatiran
Jalanan kota ramah dengan gemuruh asap
keangkuhan
Para pejalan berlarian mengunduh ego yang makin
akrab bagi tubuh
Sementara, lamat-lamat hadir suara lalu mendekat
Semakin nyaring
Mengiang ledakan
Mengetuk balik jendela kesendirian
Berulang mengirim prasangka yang tak jemu berkata:
Bacalah,
pikirlah, tulis!
Demikian tajam
Mencari sela-sela pori
Mengikuti aliran darah
Tiba menyapa jantung
Mengelus manja otak
Mengusap hati yang resah
Hingga meraba nyawa
Tak henti menghampiri ceruk-ceruk tubuhku yang
senyap
Ada getar diri yang menularkan desir cinta pertama
dan berharap selamanya
Terlintas jejakan hening yang teguh terjaga dan
bimbang terlelap
Merawat kedalaman semesta
Menumbuh keabadian percaya
Bulir air mataku melukis kesiaan usia
Tak segera usai bercanda pada gelimang kefanaan
Semacam diulang
Sebuah permainan yang mencatat kerugian dalam batin
perjalanan
Luruhan gerimis menerjang ruas tahun dan batas iklim
Semacam menjadi saksi
Kian dekat dilimbur ribuan getun bermukim
Nyaring suara yang terlalu itu kembali hadir
Dengan sinopsis jentera waktu
Sekuel amanah rindu
Sangat mungkin memercikkan awal haru
Suaranya semakin menyahut menggelegar
Mendesakku agar aku tersadar
Sebelum maut merebut, maka:
Bacalah,
pikirlah, tulis!
*Pernah dimuat dalam antologi nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar